Mengenai Blog ini
- dEr@
- Bekesah atau bakesah berasal dari bahasa Banjar yang artinya Bercerita. Disini aku hanya ingin bercerita ttg apa saja yg ingin aku tuturkan, bisa dlm bentuk tulisan atau puisi. Aku harap ceritaku tdk membuat tersinggung siapapun. Karena ini semua adalah cerita yg mungkin juga semua orang alami. Blog ini jg memuat pendapatku ttg segala hal...karena sbg orang merdeka aku berhak mengutarakan pendapatku
Jumat, 15 Juli 2011
Ibu Hj. Mimi Pembela hak masyarakat yang di khianati negara
Hj. Mimi, yang memiliki nama lengkap Nurjaniah Gazali, berjuang melawan perkebunan kelapa sawit di Konawe Sulawesi Tenggara sejak tahun 2008.Ini diawali dengan keprihatinan Hj. Mimi dengan lokasi Konawe yang semua ditanami sawit. Tanah yang diserobot oleh perusahaan kelapa sawit PT. Sultra Prima Lestari (SAL) tersebut adalah tanah adat masyarakat Konawe. “Tanah ini warisan dari bapak saya, yang merupakan pejuang di sini, di lahan ini juga ada perkuburan dan monumen bersejarah” papar Hj. Mimi yang juga merupakan pemimpin masyarakat adat Sambandete Walandawe (Sambawa).
Walau masyarakat sudah menjelaskan kepada pemerintah bahwa tanah tersebut adalah tanah adat, namun tidak ada respon positif dari pemerintah. Karena sudah berkali-kali Hj.Mimi melaporkan masalah penyerobotan tanah adat tersebut, dan tidak pernah digubris, membuat Hj. Mimi dan masyarakat mencabuti kelapa sawit di lahan tersebut pada bulan Maret 2008.
Faktor lain yang membuat warga marah adalah karena pihak perusahaan yang selalu ingkar janji. Padahal sudah ada surat perjanjian yang ditanda tangani perusahaan dan masyarakat yang isinya bahwa perusahaan akan menghentikan aktivitas perkebunan kelapa sawit. Di bulan Juni 2008, masyarakat kembali tersulut emosi karena perusahan kambali ingkar janji, masyarakat kembali mencabuti sawit. Bulan Februari 2010, Mimi dan masyarakat melakukan pembakaran terhadap tanamanan sawit karena janji yang diingkari lagi oleh perusahaan.
Pembakaran ini berujung pada gugatan perdata kepada Hj. Mimi, yang dituntut ganti rugi Rp. 5 milyar, dengan mobil dan rumahnya sebagai jaminan yang dimintakan untuk disita oleh pengadilan.
Hj. Mimi juga pernah dilaporkan ke polisi dengan tuduhan merusak tanaman sawit, namun Hj. Mimi tak mau tinggal diam, beliau balik melaporkan perusahan dengan tuduhan penyerobotan tanah adat.
Perusahaan pernah menawarkan damai, pada Mimi. “Saya nggak mau damai, kita terusin aja ke pengadilan” katanya.
Aksi menolak sawit, ini dilakukan dalam berbagai cara yaitu; demonstrasi di DPRD, demonstrasi di Polres, dan demonstrasi di perusahaan, dengan estimasi massa 200 orang.
“Sampai dunia kiamat, tanah tak akan kami lepaskan, karena ini tanah leluhur” ucap Hj. Mimi bersemangat. Semangat yang berapi-api ini adalah karena perasaan memiliki yang sangat dalam terhadap tanah tersebut, dan Mimi tak rela tanah tersebut jatuh ke tangan perusahaan.
“Tanah ini adalah tanah adat, bukan tanah perusahan, tapi tanah untuk generasi kami” kata Mimi yang lahir di Konawe Utara, tanggal 9 Mei 1955 ini.
“Jangan pikir, karena saya perempuan maka saya tak berani,” ungkap ibu 4 anak dan 12 cucu ini, tentang perjuangannya.
(sumber : Buku Peluh Pembebasan: Bunga Rampai Kiprah Perempuan Dalam Pengelolaan Sumber-Sumber Kehidupan, terbitan WALHI, 2011 halaman 47-49)
Kamis, 31 Maret 2011
Bumi, Sang Pertiwi yang terluka
rangkong sudah tidak berkoak lagi
gerimis yang tipis membungkam belantara yang tinggal kenangan
memudar harapan ditebas raungan mesin-mesin pembasmi masa depan
kenangan akan masa lalu
berputar dalam dongeng-dongeng kemakmuran
diajarkan kepada lugu kanak-kanak,
yang terperangah membayangkan keindahan tak terbayang
bumi...Ibu yang letih
tertatih merentas masa
terseok menapaki terjal maya pada
mengaluri jurang yang runtuh sejengkal demi sejengkal
Ibu sang Pertiwi yang menderita
digerus serakah kaum loba....
senyum lembutnya kutemukan diujung peradapan
asa ini masih ada..
serapah dan umpatan saja tidak cukup
janji dan tebaran pesona kata saja tidak memulihkan
luka-luka itu sudah terlampau parah dan bernanah.....
Ibu Bumi...
biarkan anak-anak masa depan ini berjanji....
bekerja dan menebarkan pesona, akan cantik rupa
dan eloknya dirimu.....
Balikpapan, 31/03/2011
Memandang hamparan luka di sisi Timur Kalimantan
saat diri sedang mengutuk kekejian kaum serakah yg merajam pertiwi
dengan Beko, Cainsaw dan excavator
Senin, 23 Februari 2009
Perjalanan sang waktu
Tanpa sengaja bayang-banyang masa kecil kembali terulang dlm ingatan...kadang ketawa2 sendiri liat foto-foto masa lalu...sudah sekian lama waktu berlalu, 20 thn..wow..bukan masa yang singkat dan aku mulai mengingat sekian tahun itu apa aja yang udah aku lakukan..seperti tersentak sendiri, aku menyadari banyak juga waktu itu berlalu dengan sia-sia...wested years...dan seperti missing link dalam kehidupanku, aku menemukan bahwa terlalu banyak aku menelantarkan "keadaan" terlalu sering aku membuat orang lain sakit hati, walau kadang aku juga menemukan bahwa, aku juga udah bikin senang banyak orang..(yg ini mungkin sisi narsisku bicara...hehehehehe...)
Fenomena baru di dunia virtual, fesbuk...ini yang membawa aku ke masa lalu..melemparkan ingatan ke masa2 kecil dan masa2 remaja yang sepertinya tanpa beban. Terima kasih buat teman-teman yang masih ingat dan masih menganggap aku sebagai sahabat, sebagai teman, sebagai seseorang yang dulu mereka kenal...tapi sebagaimana usia yang bertambah, waktu yang berlalu...juga membawa banyak perubahan pada diri pribadi lepas pribadi....
Aku teringat ketika masa SMA dulu, aku pernah bercita-cita mau menjadi seorang adventurir yang berkeliling kemana-mana, aku pernah bercita-cita akan terus berpetualang sampai aku ga mampu lagi berjalan...dan sempat keinginanku itu tertunda karena berbagai hal, namun keyakinanku akan hasrat dalam diri telah membentuk sebuah keteguhan, bahwa aku harus bisa bepergian ketempat-tempat lain, minimal di negara sendirilah atau kalo ga bisa...ya di kampung sendirilah...
Keyakinan...kekuatan pikiran itu yang aku pahami..bahwa apabila kita telah meyakini sesuatu dan tekun serta bersabar dalam mewujudkannya maka...adalah sebuah keniscayaan bahwa impian itu akan menjadi kenyataan...
Suatu ketika aku pernah bertemu dengan seorang "sufi" yang mengatakan bahwa, otak adalah kekuatan diri...bahwa takdir itu ditentukan oleh kekuatan pikiran dan kemauan manusia sendiri..aku sangat terpengaruh oleh "sang sufi" dan menetapkan diri untuk menjalankan semua takdirku dan menentukan sendiri langkah2 yang harus aku ambil untuk mewujudkan impian masa kecilku...
Amazing...it's works..aku bisa bepergian keberbagai darah, bahkan aku mendapat kesempatan utk mengunjungi eropa...Jerman negara impian masa kecilku sudah aku kunjungi...apakah ini kebetulan..?? aku rasa tidak...Niat, keyakinan..!! itu yang menjadikannya sebagai sebuah keniscayaan...
Banyak hal yang aku temukan kemudian dalam perjalanan-perjalanku...Kalo pernah membaca buku Sabda Zarathustra karya nietszche, disana Nietszche bersabda tentang "keyakinan" yang mati..tentang lemahnya manusia yang "terkooptasi" oleh dogma dan hanya bisa berpasrah pada "jalan hidup" yg digariskan oleh Sang Roh Absolute...dan aku pikir Nietzsche benar...bahwa sang absolute sudah mati saat ini...dia mati karena manusia tidak bisa menghidupkan dia dalam keseharian, dalam perjalanan-perjalananku, aku menemukan manusia-manusia yang telah "membunuh" Sang Roh Absolute atau setidaknya menisbikan Ke-Absolute-an sang Roh...kok bisa begitu..?? coba deh kita simak sama-sama bagaimana Sang Roh Absolute di nistakan ketika kita liat bagaimana ke-Agungan karya Sang Roh Absolute tersebut di rusak untuk kepentingan pribadi atau golongan, atas nama kemakmuran, karya Agung yang kita sebut dengan bumi ini di-eksploitasi dan di rusak tanpa ampun...dan sebagai "pencuci" dosa, si-perusak kemudian kasih derma kesana-sini dan meng-ekspose kedermawanannya dengan gigih..apakah itu bukan menistakan Sang Roh Absolute..?? Bahkan sering juga aku temukan bagaimana manusia merasa menjadi "wakil" Sang Roh Absolute" di dunia ini, bahkan mereka merasa "lebih unggul" dari Sang Roh Absolute...mereka bisa dengan mudah bilang yang ini dosa, yang itu kafir yang sono musyrik...bahkan dengan mudah manusia menunjuk manusia yang lain sebagai calon penghuni neraka hanya karena berbeda keyakinan dengan kelompok mereka...wow..luar biasa..Sang Roh Absolute ga ada kuasanya...dia telah mati dan dibunuh oleh manusia...
Eh..kok ngelindur sampe ke sono yah...
Kembali ke topic awal yah...dalam beberapa hari ini aku seolah-olah kembali ke masa lalu..kembali menjadi anak remaja dengan berbagai dinamikanya..walau itu cuma ada di dunia virtual..tapi cukup mengasyikkan..keriangan masa remaja, kegembiraan anak-anak muda pada zamannya...dan anak-anak muda itu saat ini telah menjadi pribadi-pribadi lain..anak-anak remaja yang dulu lugu melangkah dan merentas jalan hidupnya masing-masing..kini telah hidup dalam warna yang mungkin beberapa diantaranya tidak pernah membayangkan mau jadi apa dirinya ketika dewasa atau tua...
Ada teman yang bilang..kehendak sang waktu kadang tidak bisa kita ketahui dia datang bagai pencuri di waktu malam...benarkah..??? atau sebenarnya kita telah membuat takdir itu dengan impian masa kecil kita dan seiring dengan berjalannya waktu kita menata diri dengan mewujudkan impian itu dan membangun takdir kita masing-masing..??
Bisa jadi kehidupan kita memang di atur oleh Kuasa Sang Roh Absolute...yah..hidup dan kehidupan memang punya cara dan jalan masing-masing...kadang "dia" begitu misterius, kadang sangat kasat mata...apapun itu...tergantung pada kita tohk..???
Minggu, 25 Januari 2009
Kungkungan Takdir
dimana bersembunyinya keyakinan..???
siapakah yang menyembunyikan kepastian..???
apa yang terjadi dengan kebenaran..???
Semua menghilang saat ini;
penguasa hari telah kukuhkan cengkeramannya atas hakikat...
dan jatuh satu-satu makna kedalam kehampaan.
Melolong kesejatian..perih menyayat ditimpa ketakadilan...
Banyak tanya menyeruak dari gumpalan serat-serat pikir....
mencoba melihat dari balik mata sang bijak...
tak nampak warna disana..hanya ada keseragaman...
muak diri dengan keniscayaan yang dipalsukan.
Dia yang menjadi korban keadaan;
tak pernah mendapat kesempatan untuk menjadi bebas...
atas dogma yang digariskan para puak dan tetua kaum...
Bayang masa depan berselimut sekelumit kabut tipis yang tak berani disibak...
Menangis dalam kesia-siaan....
kehilangan segala--lebih diterima dari pada melawan takdir.
Kebohongan yang sia-sia...kehampaan yang diabadikan...
ketololan sebuah tradisi...
Boutenzorg, 22 January 2009
Sabda penguasa malam
Aku luruh dalam kenang akan malam-malam berpuncak;
di tengah gerimis aku meradang menahan harap yang membuncah...
Keyakinan akan masa depan terhantam lemah pikir sang rembulan.
Lunglai ku pandangi bunga violet yang merunduk........
Tanda yang tertanam dipundak seakan ingin kurenggut...
Aku marah di tengah badai....
Suara yang kering tak berarti...lawan gemuruh prahara langit.
Berlari di antara lorong-lorong kota yang kotor;
merintih ketika kaki lemah dipaksa bertekuk...
Tertetak langkah yang dulu pasti di tengah-tengah derap...
Hujan...angin malam...rembulan yang bersembunyi dan sang violet yang merunduk....
Mainkan pikirku....Benamkan cita....
Aku terkhianati hati sendiri...
Boutenzorg, 22 January 2009
= = = = = = = = =
Awal baru...mulai dengan senyum..... (walau agak telat...)
Setelah jalan-jalan keberbagai tempat dan mengerjakan berbagai aktivitas dan kejenuhan akan hari-hari yang kadang berasa sepi..nampaknya ruang maya di sudut dunia ini menarik hatiku...
Memang belum semua tugas yang aku emban (caelah...) selesai aku kerjakan, tapi paling tidak sudah lebih dari 85% terselesaikan...tinggal sedikit lagi..dan seperti biasa itu kadang yang paling penting dan sulit...hehehehe....
Hari ini juga aku mulai menata kembali serpihan-serpihan yang terberai dalam alam pikirku.. aku coba rangkum itu dan menyalurkannya melalui ketukan di tust keyboard laptop usang yang setia menemani malam dan siang yang panjang di setiap langkah dan hari-hari yang aku lalui...
Teringat aku akan dingin malam di tengah hujan deras..saat dengan sedikit merintih aku menatap langit yang hitam dan menanti sabda langit...apa yang harus kuperbuat ketika dalam ketertekanan aku belum mampu menemukanjawab atas dilema dalam hati ini....
Melankolis sekali kesannya..padahal bertumpuk amarah membuncah dan siap keluar meledak-ledak setiap saat aku teringat ketidak adilan yang terjadi hampir disetiap tarikan napasku...
(sebentar..aku isap rokokku dulu...waduh...susah menghilangkan kebiasaan “buruk” ini, padahal beberapa waktu sebelumnya sempat aku hentikan hampir selama 2 minggu..)
Sambil menerawang mengikuti asap yang melayang...aku coba ingat-ingat kembali sebagian cerita yang terselip diantara perjalanku ke berbagai tempat...teringat aku ketika berkunkung ke Merauke di akhir bulan November 2008 yang lalu..kota yang denyut kehidupannya berbeda dengan banyak kota yang pernah aku kunjungi..ke-anehan pertama bagiku adalah ketika melihat segerombolan orang berpakaian militer..ada berbagai kesatuan ternyata di situ..dengan berbagai atribut mereka masing-masing, seakan-akan mengumumkan kehadiran mereka kepada khalayak ramai dan para pelancong yang mendatangi kota tersebut....
Siang hari adalah saat yang cukup menyiksa..karena udara yang panas dan kering...aku mencoba mencari kesibukan dengan berjalan keluar dari kawasan komplek tempat aku menginap...aneh...ternyata kota itu seakan-akan mati..tidak ada banyak aktivitas disiang itu..aku lihat jam menunjukan pukul 13.23 WIT (siang)..toko-toko yang pada malam hari sebelumnya ramai terang bendxerang dan sebagian ada yang memajang pohon natal yang dihiasi lampu warna-warni ternyata tutup..tidak ada aktivitas perdagangan di ruko-ruko sepanjang jalan di depan kompleks Keuskupan Agung Merauke (KAM) saat itu..aku bertanya-tanya dalam hati..ada apakah gerangan..?? Mungkin ada sesuatu yang terjadi..?? teringat aku akan anggota militer yang banyak “berkeliaran” di jalan2 merauke saat pagi hari sebelumnya aku menginjakan kaki di kota yang menurutku seperti kawasan zone perang (waktu sampe pertama kali di kota merauke aku pikir seperti itu emang...hehehehe..). Apakah telah terjadi sesuatu..utk bertanya aku masih ragu-ragu...
Namun..malamnya ketika jam menunjukkan pukul 19.00 WIT aku keluar kawasan kompleks KAM dimana aku menginap...kembali aku liat begitu ramainya toko dan ruko yang ada sepanjang jalan itu..banyak muda mudi lewat baik jalan kaki, naik angkot maupun mengendarai motor..wah..kok bisa sih..?? tadi siang sunyinya bukan main....malam itu begitu semarak, keramaian tjd sampe jam 23.00 mlm...
Besok siangnya di waktu yg hampir sama dengan siang sebelumnya..aku kembali mencoba melihat-lihat keramaian kota di siang hari....alamak...sama seperti siang sebelumnya..kembali jalanan sunyi dan toko2 tutup...ada apa kah ini...?? kembali aku bertanya...kalo disebut ada pemberlakuan jam khusus..utk penduduk beraktivitas...bukankah itu seharusnya di malam hari sehingga disebut pemberlakuan jam malam...tapi ini siang hari....???!!!
Aku semakin penasaran...dan aku akhirnya bertanya kepada seorang kawan...(sebut saja Octo namanya)..kenapa siang itu bgt sunyi sedangkan malam td ramai sekali...??? Ternyata menurut Octo.. memang spt inilah denyut kota merauke..di siang hari sejak jam 12.00an...sampai dengan jam 5 sore..aktivitas akan berkurang dan toko2 byk yg tutup..begitu juga pasar...kembali hidup lagi setelah jam 17.00 ato 5 sore.. Hal spt itu sudah terjadi sejak lama...amboi...pantesan..sunyi banget..rupanya orang2 di kota ini menghindari terik matahari dan panasnya udara siang dengan “bersembunyi” di rumah masing-masig..wah..wah...pantesan sunyi kali kalo siang...
Senin, 29 September 2008
Memahami Anarkisme*
Oleh : dEr@
“Di dalam sejarah perkembangannya, manusia hanya menjadi alat bagi kelas yang dominan. Pada masa perbudakan, negara mengabdi pada tuan-tuan pemilik budak; Pada masa feodal, negara mengabdi pada tuan-tuan tanah; pada masa kapitalis, negara mengabdi untuk kepentingan para kapitalis. Dan pada masa kediktatoran proletariat, negara dijadikan alat untuk kepentingan sekelompok revolusioner progressif yang memenangkan revolusi sebagai alat penindasan baru. Negara hanya mengabdi pada kepentingan kaum minoritas dan bukan mayoritas.”
Sudah merupakan sifat yang alami mungkin ya…yang namanya pemerintah(an) (serta hirarki secara keseluruhan) meliputi penindasan dan eksploitasi bagi orang-orang didalam wilayah kekuasaannya (atau paling tidak terkena efeknya). Tidak seperti kontra kultur borjuis lainnya Anarkis menolak Komunisme beserta semua tradisi sayap kiri - pemerintah - demokrasi terlebih lagi kapitalisme. Reformasi yang dilakukan partai besar dianggap kaum Anarki tidaklah cukup karena amat sangat bersifat statis (misalnya dengan tetap mempertahankan perlunya pemerintahan formal). Reformasi hanya MENYENANGKAN bukan MEMBEBASKAN orang-orang yang telibat didalamnya. Meskipun demikian seperti halnya Komunisme, Anarkis terlibat dalam berbagai gerakan-gerakan yang mendukung hak perempuan, kelas pekerja serta sama-sama membenci masyarakat kapitalis. Banyak Anarkis terlibat dalam demonstrasi-demonstrasi yang diorganisasi oleh Liga Spartakis atau grup-grup Marxis, Leninis, Trotskys lainnya. Hal ini dikarenakan mereka memiliki goal-goal yang mirip dalam beberapa isu yang spesifik.
Namun, Anarkisme dan siapa saja yang membaca sejarah sadar akan realitas Komunisme yang telah melenceng jauh dari goal “ideal” akan sebuah “negara”, apalagi bila dilihat dari kaca mata Anarkis yang menolak negara. “Grup-grup komunis yang telah kehilangan kekuatan membicarakan tentang kebersamaan dalam satu garis dan menampilkan Komunisme sebagai kekuatan mulia, berperang demi persamaan dan keadilan menghadapi dominasi Kapitalis. Tetapi faktanya para partai-partai sayap kiri secara alamiah bersifat autoritarian.” Setiap sistem yang didalamnya memiliki bagian dari filosofi dominasi satu manusia oleh manusia lainnya memiliki kemungkinan untuk menindas. “Kelompok-kelompok komunis tidak akan pernah memperjuangkan pembebasan
Rezim-rezim Komunis secara substansial tidak berbeda dengan rezim-rezim yang mereka tumbangkan, paling tidak dalam satu subjek MENJADI PENGATUR/PENGUASA sedangkan Anarkis percaya revolusi bukanlah suatu pergantian yang sederhana (meskipun mungkin sangat amat berdarah) dari satu pengatur ke pengatur lainnya_karena Anarkis berarti tanpa pengatur/penguasa. “kita hidup dizaman dimana revolusi hanyalah berarti hasil rekayasa kelas profesional satu organisasi komunis yang merencanakan untuk menggulingkan sistem kapitalis dan mencoba menggantinya dengan sistem yang sama busuknya jika tidak lebih menindas dari yang ada sekarang” (PE #1 hal 29 ,Band Minnessota Destroy) Dalam pengertian ini revolusi hanya menjadi lingkaran setan : satu pemberontakan tanpa orientasi yang hanya akan menguatkan posisi kelas penguasa baru yang akan menggantikan posisi penguasa lama. Komunisme tidak memiliki ketertarikan akan pembebasan diri dari mental penguasaan yang tidak bisa lepas dalam segala segi kehidupan kita saat ini : untuk menghapus kekuatan itu sendiri, hal yang merupakan ideal para Anarkis dan karena hal ini pula maka Komunisme sama tidak di inginkan oleh para Anarkis sebagaimana Kapitalisme.
Pertentangan konsepsi tentang negara sosialis sudah terjadi jauh sebelumnya, ketika Bakunin memimpin kelompok anarkisme dalam pertemuan Asosiasi Buruh Internasional (Internasionale I) di London pada tahun 1864. Kelompok ini sangat berseberangan dengan Marx, khususnya tentang konsep negara sosialis. Bakunin sangat menentang konsep negara sosialis seperti yang dicetuskan Marx. Kaum Marxist berpendapat bahwa negara masih diperlukan selama revolusi proletar, yang menjadi cita-cita kaum buruh, belum terjadi. Negara masih diperlukan sebagai sarana untuk membentuk komunitas komunis dibawah kediktatoran kaum buruh. Menurut Bakunin, negara tidak diperlukan lagi, karena kekuasaan negara melanggar hak-hak asasi individu yang bebas. Negara harus digantikan oleh komunitas-komunitas yang bebas dan mandiri secara ekonomi.
Kelompok ini kemudian dikeluarkan dari Internasionale I pada tahun 1872 saat Kongres Hague. Kelompok anarkis pimpinan Bakunin kemudian mengadakan Kongres sendiri di
Dalam perkembangannya Anarkisme sendiri kemudian muncul dengan Varian-varian yang beragam, Varian-varian atau penggolongan ini terjadi karena adanya perbedaan pandangan, sikap politik, latar belakang, maupun taktik serta penerapan ideologi anarkisme itu sendiri oleh para anarkis.
Beberapa varian dari Anarkisme itu antara lain :
1. Anarko-Komunisme
2. Anarko-Sindikalisme
3. Anarka-Feminisme
4. Anarkisme individualisme
5. Anarkis Platformis
6. Infoanarkisme
7. Anarki pasca-kiri
8. Anarkisme Hijau
9. Anarko-primitifisme
Prinsip dasar
Kelompok anarkisme-komunis menekankan pada egalitarianisme (persamaan), penghapusan hirarki sosial (social hierarchy), penghapusan perbedaan kelas, distribusi kesejahteraan yang merata, penghilangan kapitalisme, serta produksi kolektif berdasarkan kesukarelaan. Negara dan hak milik pribadi adalah hal-hal yang tidak seharusnya eksis dalam anarkisme-komunis. Setiap orang dan kelompok berhak dan bebas untuk berkontribusi pada produksi dan juga untuk memenuhi kebutuhannya berdasarkan pilihannya sendiri.
Salah satu hal yang membedakan antara anarkisme-kolektif dengan anarkisme-komunis adalah pandangan mengenai gaji dan upah pekerja. Anarkisme-komunis berpendapat bahwa tidak ada satu carapun yang dapat mengukur kontribusi seseorang terhadap proses produksi dan ekonomi karena kesejahteraan adalah hasil dari produksi bersama. Sistem ekonomi yang berdasarkan gaji/upah pekerja dan hak milik adalah bentuk penyiksaan negara dan aparaturnya dengan tujuan untuk mempertahankan hak milik pribadi dan juga ketidakseimbangan hubungan ekonomi diantara para pelaku produksi. Selain itu, anarkisme-komunis menolak sistem gaji/upah pekerja dengan dasar filosofi bahwa pada hakikatnya manusia itu "malas" dan "egois". Anarkisme-komunis juga mendukung komunisme (dalam sistem pemikiran Marxisme) dengan penekanan pada penjaminan kebebasan dan juga kesejahteraan bagi setiap orang, dan tidak mendukung komunisme dalam hal yang berhubungan dengan kekuasaan. Hal inilah yang membuat anarkisme-komunis sering disamakan dengan filsafat egalitarian.
Secara khusus, memang seharusnya tak ada–isme anarko-primitivisme ataupun anarko-primitivis. Individu-individu yang diasosiasikan dengan arus ini tidak pernah berharap untuk dikotakkan dalam batas-batas sebuah ideologi, melainkan memilih menjadi individu-individu bebas dalam komuniti bebas yang berjalan dalam harmoni satu sama lain termasuk juga dengan biosfer sehingga akan menolak untuk dibatasi dengan sekedar terminologi ‘anarko-primitivis’ atau label-label ideologis lainnya. Sehingga, definisi terbaik untuk anarko-primitivisme adalah sebuah label yang tepat yang digunakan untuk mengkarakteristikkan individu-individu yang beragam dalam kesamaan sebuah proyek: penghapusan seluruh relasi kekuasaan—seperti struktur kontrol, paksaan, dominasi dan eksploitasi—demi membangun sebuah bentuk komunitas yang telah membuang seluruh struktur relasi tersebut.
Bagi para anarko-primitivis, peradaban adalah sebuah konteks pelipatgandaan relasi kekuasaan. Beberapa relasi kekuasaan yang paling mendasar memang terdapat juga di tengah masyarakat primitif—dan atas alasan ini jugalah mengapa anarko-primitivis tidak berupaya untuk mereplika atau kembali pada bentuk masyarakat tersebut—tetapi dalam peradabanlah berbagai relasi kekuasaan menjadi sangat berkembang dan begitu meresap dalam seluruh aspek praktis kehidupan manusia dan dalam relasi antara manusia dengan biosfernya. Peradaban—sering disebut juga sebagai mega-mesin atau Leviathan—menjadi sebuah mesin raksasa yang meraih momentumnya sendiri dan semakin berada di luar kontrol mereka yang menciptakannya. Digerakkan melalui rutinitas kehidupan harian yang didefinisikan dan dimanajemeni melalui internalisasi ketertundukan, manusia menjadi budak bagi mesin ini, sistem yang menopang peradaban itu sendiri. Hanya penolakan terhadap sistem yang telah menyebar luas, menentang berbagai bentuk kontrol, pemberontakan melawan kekuasaan itu sendirilah, yang dapat menghancurkan peradaban serta menghadirkan sebuah alternatif radikal.
Berbagai ideologi seperti Marxisme, anarkisme klasik dan feminisme menentang beberapa aspek tertentu dari peradaban tetapi hanya anarko-primitivisme yang menentang peradaban itu sendiri, konteks yang mana di dalamnya seluruh bentuk perjuangan ideologis tersebut terengkuh di dalamnya. Anarko-primitifisme melibatkan elemen-elemen dari berbagai arus oposisi—kesadaran ekologi, anti-otoritarianisme anarkis, kritik dari feminis, ide-ide Situationist International, teori-teori kerja, kritik teknologi—tetapi melangkah melampaui bentuk oposisi tunggal terhadap kekuasaan, dengan menolak seluruh bentuk struktur relasi kekuasaan.
Beberapa arus yang secara karakteristik berdekatan dengan anarko-primitivisme: Futurist, Dada, Surrealisme, Situationist International, CrimethInc. (ex-)Worker Collective, Fifth Estate, Unabomber, AJODA, Green Anarchy, serta anarkisme-anarkisme insureksioner.
1. Solidaritas kaum pekerja
2. Aksi langsung
3. Swa-kelola kaum pekerja
Meski memiliki banyak Varian, garis merah anarkisme konsisten dan prinsip terfundamentalnya transparan. Maka ia mudah ditelusuri, sebab hakikat anarki itu cuma menyangkut empat garis merah berikut :
1. Anarki adalah perindu kebebasan martabat individu. Ia menolak segala bentuk penindasan. Jika penindas itu kebetulan pemerintah, ia memilih masyarakat tanpa pemerintah. Jadi, anarki sejatinya bumi utopis yang dihuni individu-individu yang ogah memiliki pemerintahan dan menikmati kebebasan mutlak.
2. Konsekuensi butir pertama adalah, anarki lalu antihirarki. Sebab hirarki selalu berupa struktur organisasi dengan otoritas yang mendasari cara penguasaan yang menindas. Bukannya hirarki yang jadi target perlawanan, melainkan penindasan yang menjadi karakter dalam otoritas hirarki tersebut.
3. Anarkisme adalah paham hidup yang mencita-citakan sebuah kaum tanpa hirarki secara sospolekbud yang bisa hidup berdampingan secara damai dengan semua kaum lain dalam suatu sistem sosial. Ia memberi nilai tambah, sebab memaksimalkan kebebasan individual dan kesetaraan antar individu berdasarkan kerjasama sukarela antarindividu atau grup dalam masyarakat.
4. Tiga butir di atas adalah konsekuensi logis mereaksi fakta sejarah yang telah membuktikan, kemerdekaan tanpa persamaan cuma berarti kemerdekaan para penguasa, dan persamaan tanpa kemerdekaan cuma berarti perbudakan.
Anarko dan sistem politik borjuasi
Dalam memandang dominasi sistem politik borjuasi saat ini, kaum Anarkis berprinsip untuk melawannya dengan berbagai cara yang memungkinkan sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada. Sangat berbeda dengan berbagai gerakkan yang dijalankan oleh mereka yang mengaku sebagai “orang-orang kiri” yang memiliki kecenderungan untuk “berdamai” dengan sistem politik demokrasi borjuasi. Dekadensi pemikiran dan ketidak sabaran dalam mengorganisir
Karakterisasi dan kegagalan dari resistensi sayap kiri memiliki kecenderungan yang sama dengan sayap kanan dimana ditolak oleh para anarkis karena selalu menggunakan teknik dominasi_dimana pemimpinnya memberikan perintah pada para pengikutnya yang dengan membabi buta mengikuti perintah-perintah tersebut. “Para formal kiri mendominasi dengan satu isu tunggal seakan-akan meniti karir profesional mengusahakan perubahan melalui jalur birokrasi serta mencari status-status dalam perjuangan, semua ini seakan ingin menunjukkan kalau mereka adalah para revolusioner “profesional”._Mirip dengan para komunis sayap kiri juga mencari pembenaran lewat “usulan-usulan” untuk mendukung pemilihan suara bagi para politisi “progresif” yang cepat atau lambat akan menjual suara-suara yang mereka dapat demi kekuasaan dan uang atau kemudian malah menandatangani undang-undang yang akan menindas para pemberi suaranya. Semua orang yang menyempatkan diri untuk bekerja pada grup-grup non profit yang memiliki “tujuan” pasti pernah memiliki pengalaman akan hal-hal seperti yang dituliskan diatas. Tentu tidak menutup kemungkinan terdapat hal-hal baik yang berhasil dilakukan “demokrat-demokrat kiri” akan tetapi para Anarkis melihat yang mereka lakukan hanyalah dibagian kulit luarnya saja dan bukan perubahan yang sebenarnya. Kritik paling mendasar bagi “politik sayap kiri” yang masuk dalam Sistem Politik Borjuasi adalah bagaimana bagusnyapun proposal akan perkembangan mereka cenderung menginginkan perubahan dengan menjadi bagian dari sistem yang korup dan destruktif..sedangkan para Anarkis hanya tertarik pada PERUBAHAN TOTAL.
*)Dikutip dari berbagai sumber
Right to Copy..dipersilahkan utk memperbanyak atau mengedarkannya secara luas.
